Menu

Mode Gelap
JPKP Dorong BBWS Citanduy Segera Tangani Banjir yang Rendam 700 Hektare Sawah di Pangandaran ASN Kemensos di Kabupaten Pangandaran Dorong Digitalisasi Bansos Lewat Agen Perlinsos Razia Gabungan Pajak Kendaraan di Pangandaran Musim Kemarau Jadi Berkah, Pengrajin Layangan Sawangan di Pangandaran Kebanjiran Order Festival & Expo KKN Berakhir, 30 Desa di Pangandaran-Tasikmalaya Pamer Karya Seni dan UMKM Diduga Akibat Faktor Ekonomi, Ibu Muda di Pangandaran Dipukul Suami Pakai Palu

Headline

Melihat Tambak Garam di Cimerak Pangandaran yang Masih Bertahan

badge-check


					Melihat Tambak Garam di Cimerak Pangandaran yang Masih Bertahan Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Melihat proses pembuatan garam di bibir pantai di wilayah Dusun Madasari Desa masawah Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran, Kamis (23/1/2025).

Air laut itu diolah menjadi garam oleh sejumlah warga yang tergabung dalam satu kelompok bernama Cipta Rasa Garam Madasari.

 

Sebelum jadi garam, air laut itu terlihat tertampung di kolam-kolam yang cukup luas dengan penutup atap menggunakan plastik tebal.

Kolam-kolam di lokasi itu, sudah ada endapan air laut yang sudah mengkristal dan akan menjadi garam.

 

Ketua Kelompok Cipta Rasa Garam, Toto Ismanto (57) menyebut, kelompoknya yaitu satu-satunya kelompok di Kabupaten Pangandaran yang masih bertahan membuat garam.

“Saat ini, di Kabupaten Pangandaran hanya kelompok kita yang masih berjalan. Kalau dulu, ada kelompok lain tapi sudah enggak jalan,” ungkapnya.

 

Menjadi petani garam, Toto mengaku, sudah dimulai sejak tahun 2018 setelah menerima pelatihan di Tegal Cilacap Jawa Tengah.

Untuk prosesnya, pertama air laut diambil dari laut Madasari dengan menggunakan pompa air.

 

Kemudian, dialirkan ke bak kedua. Setelah dua Minggu, air laut tersebut lalu dialirkan ke bak ketiga, dan terakhir dialirkan ke bak pengkristalan.

“Sampai berbentuk garam (mengkristal), itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan.”

“Nah, baru garam itu bisa dipanen. Biasanya, di panennya itu di waktu sore sampai malam hari,” kata Toto.

 

Kemudian garam yang sudah di panen, itu dikirimkan ke wilayah Bandung. Dalam sebulan, Toto bisa mendapatkan garam sebanyak 2,5 sampai 3 ton.

“Kalau diuangkan, dalam sebulan dapat Rp 2,5 juta. Karena, harga garam dari kita itu hanya Rp 1000 perkilogram,” jelasnya. [©]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Doa dan Lilin di Pantai Pangandaran, Solidaritas Jurnalis untuk Lima Rekan yang Hilang di Anak Krakatau

21 September 2026 - 10:22 WIB

Pemdes Limusgede Gelar Pendidikan Jurnalistik, Tingkatkan SDM Perangkat dan Lembaga 

19 September 2026 - 15:34 WIB

Harhubnas 2026 di Nusawiru, Pemkot Banjar Dorong Transportasi yang Mudahkan Mobilitas Warga

19 September 2026 - 15:12 WIB

JPKP Dorong BBWS Citanduy Segera Tangani Banjir yang Rendam 700 Hektare Sawah di Pangandaran

19 September 2026 - 10:55 WIB

ASN Kemensos di Kabupaten Pangandaran Dorong Digitalisasi Bansos Lewat Agen Perlinsos

17 September 2026 - 18:39 WIB

Trending di Daerah