Menu

Mode Gelap
Musim Kemarau Jadi Berkah, Pengrajin Layangan Sawangan di Pangandaran Kebanjiran Order Festival & Expo KKN Berakhir, 30 Desa di Pangandaran-Tasikmalaya Pamer Karya Seni dan UMKM Diduga Akibat Faktor Ekonomi, Ibu Muda di Pangandaran Dipukul Suami Pakai Palu Aquarium Indonesia Pangandaran Semarakkan HUT ke-81 RI dengan Pesta Rakyat Bawah Laut Ratusan Anggota PKTMPP di Pangandaran Perkuat Silaturahmi, Siap Pasang Banner di Lahan Garapan Cegah Anak Kecanduan Gadget Saat Liburan, Yayasan Dangiang Galuh Pajajaran Luncurkan Program ULAS di Langkaplancar

Headline

Melihat Tambak Garam di Cimerak Pangandaran yang Masih Bertahan

badge-check


					Melihat Tambak Garam di Cimerak Pangandaran yang Masih Bertahan Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Melihat proses pembuatan garam di bibir pantai di wilayah Dusun Madasari Desa masawah Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran, Kamis (23/1/2025).

Air laut itu diolah menjadi garam oleh sejumlah warga yang tergabung dalam satu kelompok bernama Cipta Rasa Garam Madasari.

 

Sebelum jadi garam, air laut itu terlihat tertampung di kolam-kolam yang cukup luas dengan penutup atap menggunakan plastik tebal.

Kolam-kolam di lokasi itu, sudah ada endapan air laut yang sudah mengkristal dan akan menjadi garam.

 

Ketua Kelompok Cipta Rasa Garam, Toto Ismanto (57) menyebut, kelompoknya yaitu satu-satunya kelompok di Kabupaten Pangandaran yang masih bertahan membuat garam.

“Saat ini, di Kabupaten Pangandaran hanya kelompok kita yang masih berjalan. Kalau dulu, ada kelompok lain tapi sudah enggak jalan,” ungkapnya.

 

Menjadi petani garam, Toto mengaku, sudah dimulai sejak tahun 2018 setelah menerima pelatihan di Tegal Cilacap Jawa Tengah.

Untuk prosesnya, pertama air laut diambil dari laut Madasari dengan menggunakan pompa air.

 

Kemudian, dialirkan ke bak kedua. Setelah dua Minggu, air laut tersebut lalu dialirkan ke bak ketiga, dan terakhir dialirkan ke bak pengkristalan.

“Sampai berbentuk garam (mengkristal), itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan.”

“Nah, baru garam itu bisa dipanen. Biasanya, di panennya itu di waktu sore sampai malam hari,” kata Toto.

 

Kemudian garam yang sudah di panen, itu dikirimkan ke wilayah Bandung. Dalam sebulan, Toto bisa mendapatkan garam sebanyak 2,5 sampai 3 ton.

“Kalau diuangkan, dalam sebulan dapat Rp 2,5 juta. Karena, harga garam dari kita itu hanya Rp 1000 perkilogram,” jelasnya. [©]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hadiri Pangandaran Air Show 2026, Kapolda Jabar Dorong Sinergi Pengamanan Event Nasional

5 September 2026 - 17:30 WIB

Kapolda Jabar Datang ke Banjar, Soroti Pelayanan Publik dan Apresiasi Kinerja Polres

5 September 2026 - 10:23 WIB

Musim Kemarau Jadi Berkah, Pengrajin Layangan Sawangan di Pangandaran Kebanjiran Order

3 September 2026 - 18:27 WIB

PMII Soroti Hibah 30 Hektare Lahan ISBI, SKPD Pangandaran Menjerit, Defisit dan IPM Masih PR

27 Agustus 2026 - 18:56 WIB

Fraksi PDIP Minta Pemda Pangandaran Kaji Ulang Hibah 30 Hektare untuk ISBI Bandung

27 Agustus 2026 - 13:05 WIB

Trending di Daerah