Menu

Mode Gelap
Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Bulan Bung Karno 2026 di Pangandaran, Edukasi Pancasila hingga Doorprize Rp 60 Juta Big Mike Fighting Series Guncang Pangandaran, Ajang Tinju Siap Lahirkan Petarung Muda  Tebar Hewan Kurban, Ratusan Kambing Dibagikan ke Sejumlah DKM di Kabupaten Pangandaran  Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia Pemotor RX KING Asal Cilacap Nyaris Jadi Korban Pembacokan di Pangandaran, Sempat Ditangkis Saat Diserang Rakor dan Evaluasi SPPG  di Pangandaran, BGN: Jurnalis Tak Boleh Meliput

Headline

Melihat Tambak Garam di Cimerak Pangandaran yang Masih Bertahan

badge-check


					Melihat Tambak Garam di Cimerak Pangandaran yang Masih Bertahan Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Melihat proses pembuatan garam di bibir pantai di wilayah Dusun Madasari Desa masawah Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran, Kamis (23/1/2025).

Air laut itu diolah menjadi garam oleh sejumlah warga yang tergabung dalam satu kelompok bernama Cipta Rasa Garam Madasari.

 

Sebelum jadi garam, air laut itu terlihat tertampung di kolam-kolam yang cukup luas dengan penutup atap menggunakan plastik tebal.

Kolam-kolam di lokasi itu, sudah ada endapan air laut yang sudah mengkristal dan akan menjadi garam.

 

Ketua Kelompok Cipta Rasa Garam, Toto Ismanto (57) menyebut, kelompoknya yaitu satu-satunya kelompok di Kabupaten Pangandaran yang masih bertahan membuat garam.

“Saat ini, di Kabupaten Pangandaran hanya kelompok kita yang masih berjalan. Kalau dulu, ada kelompok lain tapi sudah enggak jalan,” ungkapnya.

 

Menjadi petani garam, Toto mengaku, sudah dimulai sejak tahun 2018 setelah menerima pelatihan di Tegal Cilacap Jawa Tengah.

Untuk prosesnya, pertama air laut diambil dari laut Madasari dengan menggunakan pompa air.

 

Kemudian, dialirkan ke bak kedua. Setelah dua Minggu, air laut tersebut lalu dialirkan ke bak ketiga, dan terakhir dialirkan ke bak pengkristalan.

“Sampai berbentuk garam (mengkristal), itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan.”

“Nah, baru garam itu bisa dipanen. Biasanya, di panennya itu di waktu sore sampai malam hari,” kata Toto.

 

Kemudian garam yang sudah di panen, itu dikirimkan ke wilayah Bandung. Dalam sebulan, Toto bisa mendapatkan garam sebanyak 2,5 sampai 3 ton.

“Kalau diuangkan, dalam sebulan dapat Rp 2,5 juta. Karena, harga garam dari kita itu hanya Rp 1000 perkilogram,” jelasnya. [©]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Bulan Bung Karno 2026 di Pangandaran, Edukasi Pancasila hingga Doorprize Rp 60 Juta

20 Juni 2026 - 14:24 WIB

SPPG di Pangandaran Kembali Normal, Operasional Libur Sementara Ikuti Kalender Sekolah

20 Juni 2026 - 14:11 WIB

LBH Ansor Pangandaran Desak Investigasi Tumpahan Batu Bara, Harus Ada Pemulihan dan Penegakan Hukum

19 Juni 2026 - 16:52 WIB

Resmikan Jalan Jembatan Cantilan, Ida Nurlaela Dorong Konektivitas Pangandaran–Tasikmalaya dan Akses Ekonomi Warga

16 Juni 2026 - 14:11 WIB

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Satlantas Polres Banjar Bagikan 150 Paket Sembako untuk Pengemudi Becak

15 Juni 2026 - 19:00 WIB

Trending di Daerah