LENSAPRIANGAN.COM – Di tengah derasnya perkembangan zaman dan teknologi, permainan tradisional perlahan mulai tersisih dari keseharian anak-anak. Namun, kondisi berbeda terlihat di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Permainan tradisional terus diperkenalkan dan dilestarikan. Satu di antaranya melalui permainan bakiak yang berlangsung di Lapang Mangunjaya, Selasa (15/9/2026).
Pagi menjelang siang suasana di lapangan mendadak riuh. Anak-anak sekolah dasar tampak antusias mengikuti lomba bakiak.
Teriakan dan sorakan terdengar dari pinggir lapangan, menyemangati para peserta yang berusaha menjadi yang tercepat mencapai garis finis.
Tak hanya siswa, sejumlah guru hingga pimpinan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran ikut turun meramaikan permainan tersebut.
Keseruan semakin terasa ketika para peserta mulai melangkahkan kaki. Satu bakiak dimainkan oleh tiga orang yang harus berjalan dalam irama dan gerakan yang sama.
Jika tidak kompak, keseimbangan pun mudah hilang. Beberapa peserta bahkan terjatuh karena langkah kaki yang tidak seragam.

Namun, bukannya berhenti, kejadian itu justru memancing tawa dan menambah semarak suasana permainan.
Dari garis start, setiap kelompok berusaha secepat mungkin menuju garis finis. Kunci kemenangan bukan hanya kecepatan, tapi juga kekompakan dan keserasian tiga pemain dalam mengatur langkah.
Kepala Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Soleh Supriadi, mengatakan permainan tradisional memiliki kenangan tersendiri dirinya. Ia mengaku sudah memainkan bakiak sejak masih kecil pada era 1980-an.
“Pada tahun 80-an permainan bakiak ini sudah saya mainkan. Dulu ada permainan bared, gobag, bakiak, dan permainan tradisional lainnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pelaksanaan olahraga tradisional ini mengingatkan kembali pada berbagai permainan yang pernah populer di masa lalu.
Untuk itu, ia menilai permainan tradisional perlu terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda.”Makanya, olahraga tradisional ini harus kita lestarikan,” kata Soleh.
Menurutnya, permainan bakiak bukan sekadar perlombaan untuk mencapai garis finis. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan karena setiap pemain harus mampu menyelaraskan gerakan dengan anggota kelompoknya.
“Memang permainan bakiak butuh kekompakan dan keserasian untuk menjalankannya,” paparnya.
Selain bakiak, kegiatan olahraga tradisional tersebut juga diisi dengan sejumlah permainan lainnya, di antaranya egrang, sumpit, dan dogongan. ***






