LENSAPRIANGAN.COM – Musim kemarau panjang yang disertai angin kencang membawa berkah bagi Padli, warga Dusun Bulakbanjar, Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Selama musim kemarau, Padli bersama istri dan anak-anaknya kembali memproduksi layangan Sawangan atau bapangan untuk memenuhi tingginya permintaan.
Layangan tersebut banyak diminati warga, terutama anak-anak yang memanfaatkan area persawahan kering dan lahan terbuka untuk bermain layangan.
Padli mengatakan, permintaan layangan pada musim kemarau tahun ini mengalami peningkatan. Pembeli bahkan datang langsung ke rumahnya untuk memesan berbagai jenis dan model layangan.
“Alhamdulillah, permintaan layangan meningkat. Cukup untuk kebutuhan dapur dan jajan anak sekolah,” ujar Padli, Selasa (1/9/2026).
Dalam sehari, Padli mampu memproduksi hingga delapan layangan, tergantung tingkat kesulitan serta model yang dipesan.
Beberapa jenis yang dibuat di antaranya Pegon, Kalongan atau Kampretan, Bulan Bintang, Papatongan dan berbagai model lainnya.
Dari usaha musiman tersebut, Padli mengaku bisa memperoleh omzet mulai puluhan hingga ratusan ribu rupiah per hari.
Harga layangan yang diproduksinya bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp100 ribu per buah.
Perbedaan harga disesuaikan dengan ukuran, bentuk dan tingkat kerumitan model yang dipesan.
Untuk bahan baku, Padli memanfaatkan bambu yang diperoleh dari sekitar rumah. Sementara plastik warna-warni dan lem dibeli dari toko.
Proses pembuatan layangan dilakukan secara manual di depan teras rumah. Bambu terlebih dahulu diserut dan dibentuk mengikuti pola layangan.
Setelah rangka selesai, plastik warna-warni dipasang menggunakan lem.
Selanjutnya, layangan dipasangi tali sebelum dilakukan uji coba untuk memastikan layangan tersebut dapat terbang dengan baik.
Aktivitas membuat layangan itu telah dilakoni Padli bersama keluarganya selama sekitar 20 tahun.
Meski hanya dijalankan sebagai usaha musiman, kerajinan tersebut menjadi sumber tambahan penghasilan yang cukup berarti bagi keluarganya setiap musim kemarau.
Bagi Padli, musim kemarau bukan hanya membawa tantangan bagi sebagian masyarakat.
Kondisi cuaca yang panas dan angin yang cukup kencang justru membuka peluang ekonomi dari kegemaran warga bermain layangan.
Di tengah meningkatnya permintaan, Padli pun terus memproduksi layangan di sela aktivitas keluarga. Dari teras rumah sederhana di Dusun Bulakbanjar, ia mempertahankan kerajinan layangan tradisional sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan. *Wwn*






