LENSAPRIANGAN.COM – Hari pangan sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 3026, Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (Jamtani) menyoroti minimnya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian.
Sempitnya penguasaan lahan, tingginya ketergantungan terhadap input produksi, serta rendahnya keuntungan yang diterima petani dinilai menjadi faktor utama yang membuat sektor pertanian semakin tidak menarik bagi anak muda.
Direktur Jamtani sekaligus Dewan Perwakilan Anggota (DPA) baru Aliansi Organis Indonesia (AOI) periode 2026–2029, H. Kustiwa S. Adinata, mengatakan persoalan regenerasi petani bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tantangan di berbagai negara, terutama kawasan Asia.
Menurutnya, salah satu persoalan mendasar adalah terbatasnya penguasaan lahan oleh petani. Di Pulau Jawa, rata-rata petani hanya mengelola lahan sekitar 0,25 hingga 0,5 hektare.
“Bagaimana mungkin kita bisa sejahtera dengan luas lahan seperti itu?” kata Kustiwa.
Keterbatasan lahan itu menjadi tantangan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kondisi ini semakin berat karena sebagian besar rantai usaha pertanian masih dikuasai pihak di luar petani.
Kustiwa menyebut, petani masih menghadapi ketergantungan tinggi terhadap input dari luar, sementara penguasaan sektor sarana produksi, pascapanen, hingga pemasaran belum sepenuhnya berada di tangan mereka.
Ia memperkirakan petani hanya menguasai sekitar 30 persen dari keseluruhan rantai nilai pertanian, terutama pada tahap budidaya.
Sementara itu, sekitar 35 persen berada pada sektor input dan 30 persen lainnya pada sarana pascapanen hingga pemasaran.
“Petani hanya menguasai 30 persen di sektor budidaya. Mereka menjual tenaga kerja dan memanfaatkan lahannya sendiri, sementara sektor lainnya dikuasai pihak lain,” ungkapnya.
Ketimpangan penguasaan rantai usaha itu membuat petani sulit menikmati nilai tambah dari hasil produksinya.
Akibatnya, keuntungan yang diterima tidak selalu sebanding dengan biaya, tenaga, dan risiko yang harus ditanggung selama proses produksi.
Kondisi itu pula yang membuat sektor pertanian dinilai tidak lagi menjanjikan bagi generasi muda. Padahal, kebutuhan ekonomi anak muda saat ini semakin beragam dan menuntut tingkat pendapatan yang lebih tinggi.
“Anak muda menilai sektor pertanian sudah tidak feasible dan tidak profitable lagi,” tegas Kustiwa.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Jamtani mendorong perubahan sistem pertanian agar petani tidak hanya berkutat pada kegiatan budidaya, tapi juga menguasai sektor hulu dan hilir.
Menurut Kustiwa, petani perlu memiliki peran lebih besar dalam penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk. Dengan begitu, nilai tambah yang selama ini dinikmati pihak lain dapat kembali kepada petani.
Ia menilai penguasaan rantai usaha secara lebih menyeluruh berpotensi meningkatkan porsi nilai ekonomi yang diterima petani dari sekitar 30 persen menjadi 70 hingga 80 persen.
“Petani jangan hanya menjual bahan baku. Produk harus diolah menjadi barang jadi sehingga nilai tambahnya bisa dinikmati petani sendiri,” paparnya.
Selain pembenahan sistem usaha, Kustiwa menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendorong regenerasi petani.
Pemerintah diminta tidak sekadar mengajak anak muda terjun ke pertanian, tapi juga menyediakan dukungan anggaran, insentif, akses pembiayaan, dan pendampingan usaha.
“Keterlibatan pemerintah sangat penting karena pertanian modern membutuhkan investasi yang tidak sedikit, terutama untuk penerapan teknologi dan pembangunan fasilitas produksi,” jelasnya.
Ia pun mendorong penerapan sistem pertanian modern yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.
Penggunaan teknologi digital, Internet of Things (IoT), dan pertanian presisi dinilai dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan produktivitas, termasuk pada lahan yang terbatas.
Satu contohnya adalah penggunaan screen house atau rumah tanam, sistem irigasi tetes, serta teknologi pengelolaan air yang memungkinkan produksi lebih terkontrol.
Namun, penerapan teknologi tersebut membutuhkan modal besar. Pembangunan screen house, penyediaan tangki penampungan air, instalasi irigasi, dan berbagai perangkat pendukung lainnya menjadi tantangan bagi petani pemula.
Untuk itu, pemerintah diharapkan menghadirkan skema kredit yang terjangkau maupun bantuan sarana produksi untuk membuka akses generasi muda terhadap pertanian modern.
Kustiwa mengingatkan, bantuan pemerintah tidak boleh berhenti pada penyaluran fasilitas.
Pendampingan dan pengawasan harus berjalan agar bantuan benar-benar digunakan untuk mengembangkan usaha pertanian, bukan dialihkan untuk kepentingan lain.
“Pemerintah jangan hanya memberikan bantuan, tapi juga harus melakukan pendampingan. Kalau tidak didampingi, bantuan itu bisa berubah bentuk,” ungkap Kustiwa.
Kustiwa berharap momentum Hari Pangan Sedunia menjadi dorongan untuk membenahi tata kelola pertanian sekaligus menyusun peta jalan regenerasi petani yang berorientasi pada kebutuhan ekonomi generasi muda.
Menurutnya, masa depan pertanian tidak cukup ditopang oleh ajakan agar anak muda menjadi petani. Sektor ini harus dibangun sebagai usaha yang menguntungkan, modern, dan memiliki prospek ekonomi jangka panjang.
“Harapan kita, petani muda semakin bergairah karena pertanian yang dikelola secara maksimal, disertai peta jalan yang jelas, bisa menjawab kebutuhan ekonomi anak muda dalam jangka panjang,” ungkapnya. ***






