Menu

Mode Gelap
KUA Cimerak Pangandaran Gencarkan Edukasi Keagamaan di Bulan Ramadan 2026 Pelaksanaan Program MBG di Pangandaran Disorot, Mulai Kualitas dan Nominal Anggaran Menu Tak Sesuai Harapan saat Ramadan 2026, Menu MBG di Pangandaran Diprotes Warga Asyik!!! Camat di Pangandaran Panen Raya Jagung Angin Kencang Terjang Kalipucang Pangandaran, 9 Rumah Warga Terdampak Ribuan Warga di Pangandaran Diduga Jadi Korban Investasi Bodong, Ini Klarifikasi MBA

Bisnis

Supriati, IRT di Pangandaran Tekuni Batik Khas Daerah, Dijual Hingga ke Belanda dan Swiss

badge-check


					Supriati, IRT di Pangandaran Tekuni Batik Khas Daerah, Dijual Hingga ke Belanda dan Swiss Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Di rumah sederhana di Dusun Sidomulyo RT 02/01, Desa Sidomulyo, Kecamatan / Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ada tangan-tangan para ibu rumah tangga tampak lincah mengukir malam panas di atas kain putih.

Suara kompor kecil dan aroma malam yang khas menjadi teman mereka setiap harinya. Seorang pengrajin batik bernama Supriati (34), ibu tiga anak yang enam tahun terakhir menekuni pembuatan batik khas Pangandaran.

Dari kerja keras dan ketekunan, Supriati mendirikan Mekar Sejahtera Batik sebuah usaha kecil yang diharapkan mampu menumbuhkan kesejahteraan bagi diri, keluarga, dan sejumlah ibu di sekitarnya.

“Diberi nama Mekar Sejahtera Batik karena kami ingin seperti bunga yang mekar dan membawa kesejahteraan bagi semua,” katanya, Rabu (29/10/2025).

Perjalanan Supriati dalam dunia batik bermula pada 2017. Kala itu, Ia bekerja di satu tempat produksi batik di Bojongjati. Namun, usaha tersebut berhenti pada pertengahan 2019.

“Waktu itu yang punya tempat batik sudah tidak produksi lagi. Akhirnya saya berinisiatif membuka sendiri. Alhamdulillah, dengan izin suami, usaha ini bisa berjalan,” ucap Supriati.

Agar lebih matang, Supriati pun kemudian memperdalam ilmunya ke sejumlah daerah penghasil batik ternama seperti Solo, Yogyakarta, dan Tasikmalaya.

Pengalaman itulah yang menjadi bekal ketika Ia memutuskan membuka usaha sendiri di kampung halamannya.

Kini, Supriati tidak bekerja sendirian. Ia menggandeng para ibu rumah tangga di desanya untuk ikut serta membuat batik.

“Alhamdulillah banyak tetangga yang mau belajar dan membantu. Sekarang ada tujuh orang ibu-ibu yang terlibat. Kalau pesanan sedang banyak, bisa sampai 15 orang,” ungkapnya.

Di bengkel batiknya, para ibu itu membuat beragam motif yang terinspirasi dari kekayaan alam mulai dari motif terumbu karang, biota laut, hingga ikan marlin ikon Pangandaran.

“Yang penting tidak keluar dari tema biota laut dan flora fauna di Pangandaran. Kadang kami padukan juga dengan motif khas dari luar daerah,” paparnya.

Kain batik hasil produksi Mekar Sejahtera Batik dibanderol mulai Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu per lembar, tergantung bahan, motif, dan warna.

“Kalau untuk batik tulis, itu harganya berkisar Rp 450 ribu sampai Rp 2,5 juta,” katanya.

Kebanyakan pembeli berasal dari wilayah lokal Pangandaran dan wisatawan yang berkunjung. Bahkan, wisatawan asing asal Belanda dan Swiss pernah datang langsung untuk membeli batiknya.

“Kalau jual ke luar kota jarang, kebanyakan justru wisatawan yang datang langsung ke sini. Kalau orang sudah paham seni batik, mereka nggak nawar lagi, malah berani bayar mahal,” ucapnya sambil tersenyum.

Meski sudah berjalan enam tahun dan berhasil memproduksi ratusan motif, Supriati mengaku tantangan terbesar usahanya saat ini adalah pemasaran.

“Pasarnya yang masih terbatas. Tapi Alhamdulillah, perizinan sudah disupport pemerintah desa,” kata Supriati.

Usaha yang sepenuhnya dijalankan dengan modal pribadi itu mencatat omzet sekitar Rp 98 juta selama tahun 2024.

Bagi Supriati, angka itu bukan hanya soal pendapatan, melainkan hasil kerja keras dan bukti nyata pemberdayaan bagi masyarakat desa.

“Saya bersyukur bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar, berbagi ilmu dan rezeki lewat batik ini. Sekarang banyak orang yang tadinya tidak tahu kampung kami, jadi tahu karena batik,” ungkapnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPRD Pangandaran Soroti Dugaan Keuntungan dalam Menu MBG, Minta Masyarakat Berani Speak Up

28 Februari 2026 - 17:09 WIB

KUA Cimerak Pangandaran Gencarkan Edukasi Keagamaan di Bulan Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 22:03 WIB

Pengurus Kwarcab Gerakan Pramuka Pangandaran Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

27 Februari 2026 - 14:59 WIB

Pelaksanaan Program MBG di Pangandaran Disorot, Mulai Kualitas dan Nominal Anggaran Menu

26 Februari 2026 - 19:06 WIB

KUA Cimerak Gelar BRUS di SMK Miftahul Ulum, Bentengi Remaja dari Pergaulan Bebas dan Pernikahan Dini

26 Februari 2026 - 15:02 WIB

Trending di Daerah