LENSAPRIANGAN.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banjar menggelar kegiatan Intermediate Training (LK2) dan Latihan Khusus Kohati (LKK) sebagai bagian dari proses kaderisasi lanjutan untuk mencetak pemimpin masa depan yang responsif terhadap tantangan zaman.
Ketua Umum HMI Cabang Kota Banjar, Rio Julian Rustandi Putra, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan menjadi “kawah candradimuka” bagi kader HMI untuk mengasah kapasitas diri.
“LK2 dan LKK ini adalah momentum untuk melahirkan pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman.”
“Kader HMI harus bisa menjadi jembatan antara nilai keislaman dan keindonesiaan di tengah gempuran teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat,” ujar Rio.
Ia juga menambahkan, melalui forum ini para kader didorong untuk meningkatkan daya kritis (critical thinking) agar tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika kebijakan publik, tetapi mampu hadir sebagai aktor yang menawarkan solusi nyata.
Kegiatan ini diikuti puluhan peserta yang telah lolos seleksi ketat dari berbagai cabang HMI di seluruh Indonesia.
Selama satu pekan ke depan, para peserta akan mendapatkan materi dari berbagai tokoh nasional, akademisi, dan praktisi yang membahas isu-isu strategis kebangsaan.
Rio berharap, kehadiran peserta dari luar daerah di Kota Banjar dapat memberikan dampak positif, baik dalam pertukaran gagasan maupun memperkenalkan potensi lokal Banjar ke tingkat nasional.
“Output yang kami harapkan adalah lahirnya insan cita yang mampu menerjemahkan nilai-nilai HMI dalam aksi nyata di daerah masing-masing setelah kembali dari Kota Banjar,” katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Banjar, H. Supriana, M.Pd., mengapresiasi konsistensi HMI dalam menjaga kualitas kaderisasi melalui penyelenggaraan LK2 dan LKK secara bersamaan.
“Kami sangat mengapresiasi HMI Cabang Kota Banjar yang terus menjaga marwah perkaderan. Ini menunjukkan gairah intelektual yang luar biasa dalam mencetak kader umat dan kader bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, Intermediate Training (LK2) bukan sekadar formalitas organisasi, tetapi merupakan fase penting untuk menguji kualitas intelektual kader dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.
Begitu pula LKK yang menjadi ruang strategis bagi kader HMI-Wati dalam memperkuat peran perempuan di berbagai sektor pembangunan.
Ia menekankan bahwa Kota Banjar dan Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya piawai dalam beretorika, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan ketajaman analisis dalam memahami realitas sosial.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil, Supriana berharap HMI dapat terus menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah daerah.
“Melalui forum ini, saya menantang para peserta untuk melahirkan gagasan-gagasan segar di bidang ekonomi kreatif, kebijakan publik, maupun penguatan sumber daya manusia yang bisa disinergikan untuk kemajuan daerah,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Umum Badko HMI Jawa Barat, Siti Nurhayati, menyoroti pentingnya kader HMI memahami dinamika global yang tengah berubah.
“Kita saat ini tidak berada di ruang hampa. Dunia sedang mengalami pergeseran geopolitik dari unipolar menuju multipolar. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kader HMI untuk berkontribusi dalam peradaban,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kader HMI harus mampu memformulasikan gagasan yang relevan dan menjadi mitra kritis pemerintah.
Selain itu, kader juga didorong untuk tetap konsisten memperjuangkan kebenaran dan tidak diam terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.
“Kader HMI harus berani bersuara dan bergerak. Jangan sampai kita diam ketika ada rekan yang mengalami intimidasi. Perjuangan untuk kebenaran harus terus kita jaga,” tegasnya.(Efull)






