Menu

Mode Gelap
Bersama Polisi Militer, Mutiara Sunah Padaherang Bagikan Ribuan Takjil, 1.045 Al-Qur’an, dan 2.000 Nasi Box Ramadan 2026, IJTI Galuh Raya Kembali Gelar Program IJTI Berbagi, Salurkan Bansos bagi Jompo dan Anak Yatim di Ciamis dan Pangandaran Angin Kencang Terjang Padaherang, Warung Didi Ambruk dan Rugi Rp 10 Juta KUA Cimerak Pangandaran Gencarkan Edukasi Keagamaan di Bulan Ramadan 2026 Pelaksanaan Program MBG di Pangandaran Disorot, Mulai Kualitas dan Nominal Anggaran Menu Tak Sesuai Harapan saat Ramadan 2026, Menu MBG di Pangandaran Diprotes Warga

Daerah

Kritik Tajam Program MBG di Pangandaran, Termasuk Pasokan Bahan Baku

badge-check


					Kritik Tajam Program MBG di Pangandaran, Termasuk Pasokan Bahan Baku Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Berapa wilayah Kabupaten Pangandaran menuai sorotan.

Program nasional yang seharusnya menjamin pemenuhan gizi anak justru dinilai menyimpan persoalan serius dalam tata kelola dapur dan pengadaan bahan pangan.

Bendahara DPD KNPI Kabupaten Pangandaran, Indra Agustina Firmansah, menyampaikan kegeraman sekaligus keprihatinannya atas kondisi tersebut.

Ia menilai, praktik yang terjadi di lapangan berpotensi mengkhianati tujuan mulia MBG sebagai program strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Indra Agustina Firmansah, menyoroti dua persoalan krusial.

Pertama, dominasi pasokan bahan baku oleh pemasok dari luar Kabupaten Pangandaran dengan alasan harga yang terjangkau.

Kedua, adanya temuan bahan pangan yang diduga tidak layak konsumsi, ditandai dengan aroma tidak sedap pada menu yang disajikan kepada penerima manfaat.

“Ini program negara untuk anak-anak kita. Jangan sampai demi mengejar keuntungan pemasok luar, kualitas gizi dan kesehatan anak-anak justru dikorbankan,” tegas Indra saat di konfirmasi lewat chat whatsapp Minggu (1/2/2026) sore.

Menanggapi keluhan dan protes warga terkait menu makanan yang beraroma tidak sedap, Indra meminta masyarakat agar objektif dan tidak salah sasaran dalam meluapkan kemarahan.

“Jangan menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada relawan atau ibu-ibu yang memasak di dapur. Mereka hanya pelaksana teknis. Akar masalahnya ada pada sistem pengadaan dan pengawasan bahan baku,” ujarnya.

Menurut Indra, relawan dapur justru berada di posisi paling rentan disalahkan, padahal keputusan terkait pemasok dan standar kualitas bahan pangan berada di tangan pengelola dan pihak terkait di tingkat atas.

Ia juga menegaskan bahwa program MBG seharusnya menjadi peluang besar bagi petani dan pelaku usaha lokal Pangandaran, bukan malah dikuasai oleh pemasok dari luar daerah.

“Kalau bahan pangan diambil dari petani lokal, kualitas bisa lebih terjamin karena jarak distribusi pendek dan pengawasan lebih mudah.”

“Ini sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat setempat,” jelasnya.

Ia menegaskan instansi terkait dan pengelola SPPG untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh.

Jangan Tutup telinga Tutup Mata, mulai dari mekanisme pengadaan bahan baku, standar kelayakan pangan, hingga sistem pengawasan sebelum makanan disajikan kepada anak-anak.

“MBG ini menyangkut masa depan generasi. Jangan main-main. Negara hadir untuk menyehatkan, bukan mempertaruhkan kesehatan anak demi keuntungan segelintir pihak,” tegasnya. (Eful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sedih! Mau Lebaran, Sepeda Motor Milik Paijan di Pangandaran Diambil Orang

18 Maret 2026 - 15:46 WIB

Coko Run 100 Meter Meriahkan Malam di Banjar, Polres Dorong Energi Positif Generasi Muda

18 Maret 2026 - 11:39 WIB

Kapolres Cek Pospam Operasi Ketupat Lodaya 2026, di Jalur Wisata Pangandaran

17 Maret 2026 - 14:11 WIB

Antisipasi Lonjakan Wisatawan Lebaran 2026, Pemkab Pangandaran Siapkan 12 Shuttle Gratis 

17 Maret 2026 - 13:49 WIB

Ram Cek Jelang Lebaran, Petugas Gabungan Periksa Bus Umum di Terminal Pangandaran

16 Maret 2026 - 21:22 WIB

Trending di Daerah