Menu

Mode Gelap
Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia Pemotor RX KING Asal Cilacap Nyaris Jadi Korban Pembacokan di Pangandaran, Sempat Ditangkis Saat Diserang Rakor dan Evaluasi SPPGĀ  di Pangandaran, BGN: Jurnalis Tak Boleh Meliput BUMDes Masawah Soroti Krisis Sampah di Pantai Madasari, Desak Pemkab Pangandaran Bertindak Tegas Overload, Truk Bermuatan Kayu di Pangandaran Terguling Kecelakaan Mobil Wisatawan asal Tasikmalaya di Pangandaran, 1 Orang MD dan 17 Luka-Luka

Daerah

Kritik Tajam Program MBG di Pangandaran, Termasuk Pasokan Bahan Baku

badge-check


					Kritik Tajam Program MBG di Pangandaran, Termasuk Pasokan Bahan Baku Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Berapa wilayah Kabupaten Pangandaran menuai sorotan.

Program nasional yang seharusnya menjamin pemenuhan gizi anak justru dinilai menyimpan persoalan serius dalam tata kelola dapur dan pengadaan bahan pangan.

Bendahara DPD KNPI Kabupaten Pangandaran, Indra Agustina Firmansah, menyampaikan kegeraman sekaligus keprihatinannya atas kondisi tersebut.

Ia menilai, praktik yang terjadi di lapangan berpotensi mengkhianati tujuan mulia MBG sebagai program strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Indra Agustina Firmansah, menyoroti dua persoalan krusial.

Pertama, dominasi pasokan bahan baku oleh pemasok dari luar Kabupaten Pangandaran dengan alasan harga yang terjangkau.

Kedua, adanya temuan bahan pangan yang diduga tidak layak konsumsi, ditandai dengan aroma tidak sedap pada menu yang disajikan kepada penerima manfaat.

“Ini program negara untuk anak-anak kita. Jangan sampai demi mengejar keuntungan pemasok luar, kualitas gizi dan kesehatan anak-anak justru dikorbankan,” tegas Indra saat di konfirmasi lewat chat whatsapp Minggu (1/2/2026) sore.

Menanggapi keluhan dan protes warga terkait menu makanan yang beraroma tidak sedap, Indra meminta masyarakat agar objektif dan tidak salah sasaran dalam meluapkan kemarahan.

“Jangan menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada relawan atau ibu-ibu yang memasak di dapur. Mereka hanya pelaksana teknis. Akar masalahnya ada pada sistem pengadaan dan pengawasan bahan baku,” ujarnya.

Menurut Indra, relawan dapur justru berada di posisi paling rentan disalahkan, padahal keputusan terkait pemasok dan standar kualitas bahan pangan berada di tangan pengelola dan pihak terkait di tingkat atas.

Ia juga menegaskan bahwa program MBG seharusnya menjadi peluang besar bagi petani dan pelaku usaha lokal Pangandaran, bukan malah dikuasai oleh pemasok dari luar daerah.

“Kalau bahan pangan diambil dari petani lokal, kualitas bisa lebih terjamin karena jarak distribusi pendek dan pengawasan lebih mudah.”

“Ini sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat setempat,” jelasnya.

Ia menegaskan instansi terkait dan pengelola SPPG untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh.

Jangan Tutup telinga Tutup Mata, mulai dari mekanisme pengadaan bahan baku, standar kelayakan pangan, hingga sistem pengawasan sebelum makanan disajikan kepada anak-anak.

“MBG ini menyangkut masa depan generasi. Jangan main-main. Negara hadir untuk menyehatkan, bukan mempertaruhkan kesehatan anak demi keuntungan segelintir pihak,” tegasnya. (Eful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kapolres Banjar Pimpin Sertijab dan Pengukuhan Pejabat, Kasat Reskrim dan Kasat Lantas Resmi Berganti

14 Mei 2026 - 17:17 WIB

Melihat Proses Pembangunan Sekolah di Pangandaran dari Program Revitalisasi Sekolah

13 Mei 2026 - 15:57 WIB

Musim Tanam, BPP di Pangandaran Pastikan Stok Pupuk Bersubsidi Aman

11 Mei 2026 - 11:55 WIB

Grand Luxcamp Rice Terrace Pangandaran by Horison Resmi Dibuka, Tawarkan Sensasi Menginap Mewah

10 Mei 2026 - 17:17 WIB

Lagu Ciptaan Narapidana Lapas Ciamis Raih Rekor Indonesia, Jadi Sorotan Pemerintah Pusat

10 Mei 2026 - 15:59 WIB

Trending di Daerah