LENSAPRIANGAN.COM – Perasaan haru dan bahagia terpancar dari wajah Maspuah (59), seorang janda warga RT 09/01, Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Usai 23 tahun tinggal di rumah panggung semi permanen yang kondisinya semakin lapuk dan tidak layak huni, kini Maspuah bisa bernapas lega.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh mulai dibangun kembali menjadi rumah permanen sederhana melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130.
Selama puluhan tahun, Maspuah harus bertahan di rumah berdinding bilik bambu dengan konstruksi kayu.
Atap rumahnya kerap bocor ketika hujan turun. Seiring waktu, sejumlah bagian bangunan semakin rapuh dan mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut membuat Maspuah kerap diliputi rasa takut, terutama ketika hujan deras, angin kencang hingga terjadi gempa bumi.
“Kalau hujan takut kehujanan, takut ada gempa dan angin kencang. Dulu sempat ada kayu yang roboh, saya hanya bisa pasrah,” ungkap Maspuah, Rabu (4/11/2026).
Ia bercerita, rumah panggung tersebut awalnya dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat setelah suaminya meninggal dunia. Saat itu, warga berinisiatif membantu menyediakan tempat tinggal bagi dirinya.
“Dulu punya rumah juga dibikinkan masyarakat di sini. Setelah ditinggal suami, langsung dibikinkan rumah panggung dari kayu dan bilik bambu,” jelasnya.
Namun, setelah 23 tahun ditempati, kondisi rumah semakin memprihatinkan. Atap yang bocor beberapa kali diperbaiki bersama anak-anaknya, tetapi kerusakan terus bertambah.
Maspuah memiliki lima anak. Seluruh anaknya kini sudah berkeluarga. Ia sehari-hari lebih banyak mengurus anak dan kelima cucunya.
Kini, harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih aman mulai terwujud. Rumah panggung yang sebelumnya reyot dibongkar dan dibangun kembali menjadi rumah permanen berukuran 5 x 6 meter.
Di lokasi, proses pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan personel TNI, Polri, warga masyarakat serta petugas terkait.
Bangunan rumah mulai menggunakan pasangan bata hebel, dilengkapi pengecoran pada bagian sudut dan struktur bangunan. Sejumlah balok kayu juga sudah disiapkan untuk konstruksi atap.
Pembangunan rumah ini sudah berlangsung hampir dua pekan. Maspuah mengaku tidak sabar menunggu proses pengerjaan selesai agar bisa segera menempati rumah barunya.
“Alhamdulillah, senang sekali. Sekarang rumah saya dibangun permanen. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dan TNI yang sudah membantu membangun rumah saya,” ungkapnya.
Maspuah berharap bantuan rumah ini membawa manfaat dan menjadi tempat tinggal yang lebih aman bagi dirinya.”Semoga bermanfaat. Semoga semuanya sehat selalu, sukses dan terus maju,” ucapnya.
Kepala Dusun Limusnunggal, Ragil Herwanda Kumbara, mengatakan, di wilayahnya terdapat dua rumah warga yang mendapatkan bantuan pembangunan melalui program TMMD ke-130, yakni rumah Maspuah dan Abdul Sobar.
Menurutnya, kedua warga tersebut memang sangat membutuhkan bantuan karena kondisi ekonomi yang terbatas dan rumah yang sudah tidak layak huni.
“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan bapak-bapak TNI. Dua warga ini memang sangat membutuhkan bantuan,” paparnya.
Ragil menyatakan, kondisi rumah Maspuah bahkan sempat semakin membahayakan setelah beberapa minggu sebelumnya tertimpa pohon tumbang.
Ragil menyebut, pengajuan bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) untuk warga tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak 2024. Namun, saat itu belum terealisasi.
“Alhamdulillah, tahun 2026 ini akhirnya bisa terealisasi melalui program TMMD. Secara ekonomi mereka memang sangat minim dan membutuhkan uluran tangan,” ungkap Ragil.
Sementara itu, Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TMMD, Brigjen TNI R. Benny Arifin, mengatakan, kunjungannya bersama rombongan bertujuan memantau pelaksanaan program TMMD ke-130 di Kabupaten Pangandaran.
Monitoring dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan program, mulai dari tahap persiapan hingga pekerjaan di lapangan.
“Kita cek bagaimana program TMMD ke-130 di Kabupaten Pangandaran, mulai persiapan sampai pelaksanaan. Bagaimana program yang tinggal delapan hari ini bisa terlaksana dan tercapai,” tegasnya. ***






