Menu

Mode Gelap
Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia Pemotor RX KING Asal Cilacap Nyaris Jadi Korban Pembacokan di Pangandaran, Sempat Ditangkis Saat Diserang Rakor dan Evaluasi SPPGĀ  di Pangandaran, BGN: Jurnalis Tak Boleh Meliput BUMDes Masawah Soroti Krisis Sampah di Pantai Madasari, Desak Pemkab Pangandaran Bertindak Tegas Overload, Truk Bermuatan Kayu di Pangandaran Terguling Kecelakaan Mobil Wisatawan asal Tasikmalaya di Pangandaran, 1 Orang MD dan 17 Luka-Luka

Daerah

Pelaksanaan Program MBG di Pangandaran Disorot, Mulai Kualitas dan Nominal Anggaran Menu

badge-check


					Pelaksanaan Program MBG di Pangandaran Disorot, Mulai Kualitas dan Nominal Anggaran Menu Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pangandaran tengah menjadi sorotan serius berbagai kalangan.

Program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto yang digadang-gadang sebagai langkah strategis meningkatkan asupan gizi anak sekolah sekaligus menekan angka stunting nasional itu, di Pangandaran justru dinilai telah memasuki tahap lampu merah.

Di lapangan, distribusi MBG menuai sejumlah keluhan.

Mulai dari kualitas menu yang dinilai tidak layak konsumsi, ditemukannya bahan makanan yang busuk, hingga nominal anggaran yang dipertanyakan jika dikalkulasikan dengan nilai rupiah per porsi.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran publik terhadap standar mutu serta transparansi pelaksanaan program.

Sejumlah penerima manfaat memang menyatakan dukungan terhadap MBG. Namun dukungan tersebut disertai catatan tegas berupa kualitas makanan harus benar – benar memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.

Keberhasilan program ini dinilai bukan sekadar soal niat baik dan jargon besar, melainkan konsistensi pelaksanaan serta pengawasan ketat di lapangan.

Menanggapi dinamika itu, Bendahara DPD KNPI Kabupaten Pangandaran, Indra Agustina Firmansah, menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh merupakan keharusan demi menjaga kepercayaan publik.

Ia menilai setiap masukan dan keluhan masyarakat tidak boleh berhenti pada permintaan maaf seremonial tanpa tindak lanjut nyata.

ā€œJangan sampai persoalan yang sama terus berulang. Evaluasi harus konkret, terbuka, dan berujung pada perbaikan sistem,ā€ tegas Indra, saat di temui awak media, Kamis (26/2/2026) sore.

Transparansi dalam pengelolaan anggaran, proses distribusi, hingga mekanisme pengawasan dinilai menjadi kunci untuk memperkuat legitimasi kebijakan tersebut.

Tanpa keterbukaan, kecurigaan publik dikhawatirkan akan terus tumbuh dan menggerus kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, MBG sejatinya memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi daerah.

Pelibatan petani, nelayan, serta pelaku usaha pangan lokal dapat memperkuat rantai pasok sekaligus memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat Pangandaran.

Namun potensi tersebut hanya akan terwujud apabila seluruh mitra atau SPPG pelaksana bekerja secara profesional serta responsif terhadap berbagai persoalan di lapangan. (Efull)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

First Aid vs Grim Reaper, Mahasiswa Keperawatan Unpad Pangandaran Dukung Kesiapsiagaan Wisata Menjadi Pariwisata Kelas Dunia

23 Mei 2026 - 16:32 WIB

Mengenang Tragedi Mei 1998 di Rumah Perjuangan 145 Pangandaran

22 Mei 2026 - 19:05 WIB

Galian C Diduga Ilegal di Pangandaran Masih Beroperasi, Timbulkan Kerusakan Lingkungan

21 Mei 2026 - 13:40 WIB

Pemkot Banjar Bersama Kemendes PDTT Salurkan Bansos dan 1.500 Sak Semen untuk Warga

17 Mei 2026 - 12:59 WIB

Bersama Petani, Polres Banjar Panen Jagung Serentak, Dukung Swasembada Pangan Nasional

16 Mei 2026 - 21:09 WIB

Trending di Daerah