Menu

Mode Gelap
Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Bulan Bung Karno 2026 di Pangandaran, Edukasi Pancasila hingga Doorprize Rp 60 Juta Big Mike Fighting Series Guncang Pangandaran, Ajang Tinju Siap Lahirkan Petarung Muda  Tebar Hewan Kurban, Ratusan Kambing Dibagikan ke Sejumlah DKM di Kabupaten Pangandaran  Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia Pemotor RX KING Asal Cilacap Nyaris Jadi Korban Pembacokan di Pangandaran, Sempat Ditangkis Saat Diserang Rakor dan Evaluasi SPPG  di Pangandaran, BGN: Jurnalis Tak Boleh Meliput

Daerah

Bau Menyengat, PHRI Bantah Limbah di Pantai Pangandaran dari Hotel

badge-check


					Bau Menyengat, PHRI Bantah Limbah di Pantai Pangandaran dari Hotel Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Keluhan bau menyengat di kawasan Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat, terus menjadi sorotan.

Namun, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pangandaran menegaskan bahwa persoalan limbah tidak bisa serta merta dituding berasal dari hotel semata.

Ketua BPC PHRI Kabupaten Pangandaran, Agus Mulyana, menyatakan, isu limbah di kawasan wisata Pangandaran merupakan persoalan lama yang hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.

Menurutnya, hotel kerap dijadikan kambing hitam, meski hampir seluruh hotel sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Yang selalu jadi sasaran, pasti hotel. Padahal Pangandaran itu satu kawasan yang bercampur dengan rumah penduduk, WC umum, dan berbagai aktivitas lain yang juga menghasilkan limbah,” katanya, Selasa (3/2/2026).

Agus mengakui, pada musim liburan atau hiagh season, lonjakan aktivitas wisatawan memang berpotensi membuat kapasitas IPAL hotel melampaui batas.

Namun, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kontribusi limbah rumah tangga dan fasilitas umum yang masuk ke saluran drainase yang sama.

Agus mengklaim PHRI sudah melakukan pengecekan di sejumlah saluran air di kawasan wisata Pantai Pangandaran.

“Hasilnya, sumber limbah berasal dari berbagai titik, bukan hanya dari area hotel,” ungkapnya.

Agus menilai, akar persoalan justru terletak pada buruknya tata kelola drainase di kawasan wisata Pantai Barat Pangandaran.

Ia pun menyoroti fenomena banjir yang kerap terjadi meski hujan turun dalam waktu singkat.

“Hujan sebentar saja pasti banjir. Ini menandakan drainase tidak berjalan dengan baik,” ungkap Agus.

Padahal, secara geografis, Pangandaran memiliki karakter tanah berpasir yang harusnya mampu menyerap air dengan cepat.

Selain itu, kawasan wisata ini dikelilingi laut dan dilintasi sungai besar yang secara alami menjadi titik pembuangan air.

“Kalau hujan deras 30 menit sampai satu jam saja sudah tergenang, itu tidak wajar. Sungai dan laut adalah titik terendah, tapi air hujan tidak terdistribusi dengan baik ke sana,” kata Agus.

Kondisi itu, tentu menguatkan dugaan bahwa sistem drainase di kawasan wisata Pangandaran belum berfungsi optimal.

“Harusnya ada blueprint yang jelas. Saluran ke mana, titik terendah di mana, dan induknya dibuang ke mana. Itu sampai sekarang ini belum jelas,” tegasnya.

Agus berharap, Pemda Pangandaran segera menyusun rencana induk drainase dan sistem pembuangan limbah terpadu.

Agar, persoalan bau, banjir, dan pencemaran lingkungan tidak terus berulang, wisatawan juga akan nyaman saat beraktivitas di pantai. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Bulan Bung Karno 2026 di Pangandaran, Edukasi Pancasila hingga Doorprize Rp 60 Juta

20 Juni 2026 - 14:24 WIB

SPPG di Pangandaran Kembali Normal, Operasional Libur Sementara Ikuti Kalender Sekolah

20 Juni 2026 - 14:11 WIB

LBH Ansor Pangandaran Desak Investigasi Tumpahan Batu Bara, Harus Ada Pemulihan dan Penegakan Hukum

19 Juni 2026 - 16:52 WIB

Resmikan Jalan Jembatan Cantilan, Ida Nurlaela Dorong Konektivitas Pangandaran–Tasikmalaya dan Akses Ekonomi Warga

16 Juni 2026 - 14:11 WIB

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Satlantas Polres Banjar Bagikan 150 Paket Sembako untuk Pengemudi Becak

15 Juni 2026 - 19:00 WIB

Trending di Daerah