LENSAPRIANGAN.COM – Biasanya kamera dan mikrofon menjadi senjata para jurnalis untuk merekam peristiwa dan menyampaikan informasi kepada publik.
Namun, Minggu (20/9/2026) malam, suasana di kawasan bibir Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat terasa berbeda.
Tak ada kamera yang diarahkan kepada narasumber. Tak ada mikrofon yang mengejar sebuah pernyataan.
Justru, yang terlihat tangan-tangan yang menengadah, lantunan doa dan dzikir yang menggema, serta nyala lilin yang menjadi simbol harapan.
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Galuh Raya Pangandaran bersama sejumlah insan pers menggelar doa dan dzikir bersama untuk lima jurnalis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Anak Gunung Krakatau pada Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB.

Kegiatan yang berlangsung pada malam hari itu digelar di bibir pantai. Sejumlah jurnalis dari berbagai organisasi turut hadir bersama unsur pemerintah dan aparat.
Di antaranya Dandim 0625/Pangandaran, Waka Polres Pangandaran beserta jajaran, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Pangandaran, Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, SAR Barakuda, serta sejumlah potensi SAR lainnya.
Kelima jurnalis yang masih dalam pencarian tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Perwakilan IJTI Galuh Raya Pangandaran, Padna, menyampaikan doa bersama ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas sesama jurnalis terhadap lima rekannya yang masih belum ditemukan.
“Malam ini kita melaksanakan kegiatan doa bersama untuk mendoakan lima rekan jurnalis dan ABK yang hilang saat menjalankan tugas.”
“Saat ini sudah 14 hari dan beberapa hari ke belakang pencarian sudah ditutup. Ini satu bentuk kepedulian kita kepada mereka yang dinyatakan hilang,” ungkapnya seusai acara di Pantai Barat Pangandaran.
Suasana haru semakin terasa ketika doa dan dzikir dipanjatkan bersama. Para jurnalis yang hadir berharap pencarian terhadap kelima rekannya segera menemukan titik terang dan mereka dapat kembali berkumpul bersama keluarga.
Menurutnya, peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa tugas jurnalistik memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi ketika seorang jurnalis berada di lapangan.
“Ini juga menjadi penguat bagi keluarga dan rekan-rekan lima jurnalis yang sampai sekarang masih menunggu kabar,” kata Padna.
Di tengah suasana malam Pantai Barat Pangandaran, nyala lilin kemudian menjadi simbol harapan.
Cahaya kecil itu menyiratkan satu harapan besar kelima jurnalis yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
Dandim 0625/Pangandaran Letkol Czi Citra Kurniawan menyampaikan duka mendalam atas hilangnya lima jurnalis dan anak buah kapal (ABK) di sekitar Anak Gunung Krakatau.
“Dengan doa yang kita panjatkan ini, semoga mereka bisa secepatnya ditemukan dalam kondisi apa pun,” ungkapnya. ***






