Menu ✖

Mode Gelap
Cerita Sarkam, Tukang Bangunan Asal Pangandaran yang Tergiur Gaji Tinggi, Pulang dari Batam Tanpa Hasil JPKP Dorong BBWS Citanduy Segera Tangani Banjir yang Rendam 700 Hektare Sawah di Pangandaran ASN Kemensos di Kabupaten Pangandaran Dorong Digitalisasi Bansos Lewat Agen Perlinsos Razia Gabungan Pajak Kendaraan di Pangandaran Musim Kemarau Jadi Berkah, Pengrajin Layangan Sawangan di Pangandaran Kebanjiran Order Festival & Expo KKN Berakhir, 30 Desa di Pangandaran-Tasikmalaya Pamer Karya Seni dan UMKM

Daerah

Menderita penyakit Hirschsprung Disease, Bocah di Pangandaran Butuh Uluran Tangan 

badge-check


					Menderita penyakit Hirschsprung Disease, Bocah di Pangandaran Butuh Uluran Tangan  Perbesar

Pangandaran,LENSAPRIANGAN.COM -Seorang bocah bernama Zaki (10) di Pangandaran menderita penyakit hirschsprung disease. Karena penyakitnya itu, perut Zaki membesar dan harus menjalani operasi.

Reni, orang tua Zaki mengaku kesulitan dalam biaya pengobatan. Mengingat dirinya mempunyai tiga anak sementara sang suami tidak bekerja beberapa bulan terakhir.

 

Zaki merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, anak pertama duduk di bangku SMK sedangkan anak yang bontot masih berusia 3 tahun.

Karena itu, ia merasa kesulitan mencari biaya pengobatan. Terlebih dalam satu pekan dirinya harus bolak kontrol ke rumah sakit Margono Jawa Tengah.

 

Dalam satu kali kontrol saja, ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 800 ribu. Biaya tersebut untuk ongkos sewa mobil dan sopir.

“Satu kali kontrol biayanya sekitar Rp 800 ribu. Sedangkan satu minggu harus dua kali kontrol. Duit dari mana? Suami sudah 2 bulan nganggur,” ucap Reni saat ditemui di kediamannya di RT 07/03 dusun Balater, Desa Sindangwangi, kecamatan Padaherang, Kabupaten Jawa Barat Rabu, (8/1/2025).

 

Dari bekas operasinya itu, ia harus membeli kantung kolostomi untuk menampung kotoran akibat usus besar Zaki yang rusak.

“Dulu saya beli di apotik harga satu-nya sekitar Rp 75 ribu. Dan itu satu hari ganti setiap hari. Tapi sekarang beli di online harganya Rp 200 ribuan dapat 10 pcs,” katanya.

 

Untuk biaya sehari-hari, Reni mengatakan, sang suami suka mencari belut dan ikan (ngadorang). Dari hasilnya itu, ia jual ke tetangga atau menjual melalui online.

“Tapi kalau dapatnya sedikit, saya jualnya sudah matang. Lumayan uang nya buat kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. (art).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hari Pangan Sedunia 2026, Jamtani Soroti Petani Muda: Lahan Sempit dan Keuntungan Rendah Jadi Penghambat

16 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Kebakaran Hebat Landa Bukit di Karangsari Pangandaran, Lebih 10 Hektare Lahan Terancam

14 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Tangani Dampak Kekeringan, Pemkab Pangandaran Siapkan Rp 596 Juta untuk 90 Toren Air

14 Oktober 2026 - 11:29 WIB

Polemik Anggaran Milangkala ke-14, Miftah Mujahid Desak Pemda Pangandaran Buka Rincian Pembiayaan

12 Oktober 2026 - 19:54 WIB

Tak Diketahui Penyebabnya, Huller Gabah Padi di Ciganjeng Pangandaran Kebakaran Hebat

12 Oktober 2026 - 08:52 WIB

Trending di Daerah