Menu

Mode Gelap
Cegah Anak Kecanduan Gadget Saat Liburan, Yayasan Dangiang Galuh Pajajaran Luncurkan Program ULAS di Langkaplancar Warga Sekitar SPPG Pananjung Dua Pangandaran, Keluhkan Pola Pengadaan Bahan Baku MBG Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Bulan Bung Karno 2026 di Pangandaran, Edukasi Pancasila hingga Doorprize Rp 60 Juta Big Mike Fighting Series Guncang Pangandaran, Ajang Tinju Siap Lahirkan Petarung Muda  Tebar Hewan Kurban, Ratusan Kambing Dibagikan ke Sejumlah DKM di Kabupaten Pangandaran  Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia

Daerah

Mitos Dibalik Kampung Sapuangin Pangandaran yang Harus Diketahui 

badge-check


					Poto: Tokoh masyarakat dusun Sapuangin, Sarnyo Perbesar

Poto: Tokoh masyarakat dusun Sapuangin, Sarnyo

Pangandaran,LENSAPRIANGAN.COM – Tokoh masyarakat di dusun Sapuangin Desa Karangsari, kecamatan Padaherang, kabupaten Pangandaran Jawa Barat, Sarnyo mengungkapkan kultur budaya di kampungnya sangat kental.

Budaya itu hingga saat ini masih dilestarikan di tiga kampung. Yakni, kampung Sarongge, Sapuangin, dan Cimadang.

 

“Memang budaya di Sapuangin masih kental. Budaya leluhur seperti pemakoman dan situs-situs patilasan orang dulu masih suka di kasih sesaji,” kata Sarnyo diwawancarai wartawan dikediamannya Sabtu, (14/9/2024).

 

Selain itu, Pada kegiatan maulid Nabi, masyarakat sekitar diharuskan mengunjungi pemakaman leluhur terlebih dulu. Begitupun pada bulan Muharram.

Pada bulan Muharram, Masyarakat menggelar perayaan dan berkumpul di lokasi jalan desa. Mereka membuat nasi tumpeng dari rumah untuk persembahan kepada leluhurnya.

Hal itu dilakukan mengingat adat budaya di wilayah tersebut masih dipakai.

 

“Disini kalau bulan Muharram di jalanan penuh semua. Masyarakat membawa nasi tumpeng untuk persembahan kepada leluhur,” kata dia.

Kebiasaan lain yang sering dilakukan masyarakat yakni membakar kemenyan saat akan mengambil padi dari ladang.

 

Uniknya, padi pertama yang akan dijadikan beras harus digiling menggunakan alat tradisional lisung.

Tak hanya it, Di wilayah tersebut juga melarang keras bekerja diatas pukul 11:00 WIB.

 

Menurutnya, di waktu itu seharusnya tidak ada aktivitas apapun. Konon, jika kebiasaan itu diabaikan maka akan berdampak buruk kepada orang tersebut.

Biasanya orang itu akan jatuh sakit yang tak bisa di obati secara medis.

“Orang yang terkena dampak itu harus berobat ke orang pintar, nah setelah itu baru ke medis,” ucapnya.

 

Kemudian, Sarnyo menceritakan kejadian aneh beberapa waktu kebelakang. Pada saat itu seorang pekerja proyek pembangunan instalasi pengolahan air kedapati sekor ikan gabus di selokan dekat lokasi dirinya bekerja.

Para pekerja proyek itu menangkap ikan gabus tersebut. Padahal pekerja proyek hanya berniat memindahkanya dari selokan ke bak air.

 

Namun, tak lama kemudian mereka terserang penyakit gatal di sekujur tubuhnya.

 

“Sesudahnya orang tersebut nemuin bogo (ikan gabus) langsung gatal. Pengobatannya alami pakai Uyah (garam) tapi garam yang krosok,” kata Sarnyo. (art).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Grand Palma Pangandaran Rayakan HUT ke-3, Perkuat Konsep Syariah dan Targetkan Ekspansi

31 Juli 2026 - 21:50 WIB

Akhirnya, Tiga Anak Pemulung Asal Bekasi Dapat Perhatian Disdikpora Pangandaran, PGRI, dan BAZNAS

31 Juli 2026 - 18:01 WIB

Antara Guru dan AI: Peran Pendidik Tetap Tak Tergantikan di Era Kecerdasan Artifisial

30 Juli 2026 - 10:07 WIB

Manfaat Aplikasi Pronalin Cek, Bantu Ibu Hamil Kenali Risiko hingga Siapkan Persalinan Lebih Aman

28 Juli 2026 - 16:12 WIB

Milad ke 51, MUI Pangandaran Soroti Isu Keagamaan Sensitif, Lakukan Identifikasi dan Antisipasi Gesekan

27 Juli 2026 - 14:43 WIB

Trending di Daerah