LENSAPRIANGAN.COM – Kisah Khoenunisa umur 11 tahun membantu neneknya berjualan sate totok di SDN 2 Kalipucang Kabupaten Pangandaran.
Khoenunisa asal RT 4/1 Dusun Girisetra, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.
Pagi belum sepenuhnya hangat ketika asap tipis dari pembakaran sate totok mulai mengepul di halaman SDN 2 Kalipucang.
Di antara riuh suara siswa yang bersiap masuk kelas, tampak seorang anak perempuan berseragam sekolah dengan senyum polos membantu seorang nenek menata dagangan.
Siswi kelas 5 yang bernama Khoenunisa, berusia 11 tahun, warga RT 4 RW 1 Dusun Girisetra, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Senin (2/2/2026).
Setiap hari sebelum bel masuk berbunyi, Khoenunisa menyempatkan diri membantu neneknya berjualan sate totok di sekitar lingkungan sekolah.
Tangannya yang kecil terlihat lincah kadang membantu membungkus, kadang melayani pembeli dengan sopan.
Ia bergegas masuk kelas, berganti peran menjadi seorang pelajar yang tekun mengikuti pelajaran.
Bagi Khoenunisa (11), membantu neneknya bukanlah beban. Justru di sanalah ia belajar arti tanggung jawab dan kemandirian sejak dini.
Di sela-sela waktu istirahat, ia kembali menghampiri neneknya, memastikan dagangan tetap rapi dan pembeli terlayani dengan baik.
Wali kelas 5 SDN 2 Kalipucang, Silviana Maya, menyampaikan, Khoenunisa dikenal sebagai anak yang santun dan tidak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.
“Khoenunisa ini anaknya rajin dan sopan. Meski sebelum sekolah membantu neneknya berjualan, di kelas ia tetap fokus belajar dan tidak pernah mengeluh. Perjalanannya luar biasa untuk anak seusianya,” tutur Silviana saat di konfirmasi, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, kisah Khoenunisa menjadi contoh nyata pendidikan karakter yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.
Nilai kerja keras, kepedulian keluarga, dan rasa hormat kepada orang tua tercermin jelas dari sikapnya.
Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi keluarganya, Khoenunisa tetap memelihara mimpi seperti anak-anak lainnya.
Dukungan nenek dan lingkungan sekolah menjadi kekuatan tersendiri baginya untuk terus melangkah.
Kisah Khoenunisa bukan sekadar tentang seorang anak yang membantu berjualan, melainkan potret keteguhan hati dan cinta keluarga. (Eful)






