Menu

Mode Gelap
Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia Pemotor RX KING Asal Cilacap Nyaris Jadi Korban Pembacokan di Pangandaran, Sempat Ditangkis Saat Diserang Rakor dan Evaluasi SPPGĀ  di Pangandaran, BGN: Jurnalis Tak Boleh Meliput BUMDes Masawah Soroti Krisis Sampah di Pantai Madasari, Desak Pemkab Pangandaran Bertindak Tegas Overload, Truk Bermuatan Kayu di Pangandaran Terguling Kecelakaan Mobil Wisatawan asal Tasikmalaya di Pangandaran, 1 Orang MD dan 17 Luka-Luka

Bisnis

Perjalanan Khoenunisa Bantu Nenek Jualan Sate Totok di SDN 2 Kalipucang Pangandaran

badge-check


					Perjalanan Khoenunisa Bantu Nenek Jualan Sate Totok di SDN 2 Kalipucang Pangandaran Perbesar

LENSAPRIANGAN.COM – Kisah Khoenunisa umur 11 tahun membantu neneknya berjualan sate totok di SDN 2 Kalipucang Kabupaten Pangandaran.

Khoenunisa asal RT 4/1 Dusun Girisetra, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.

Pagi belum sepenuhnya hangat ketika asap tipis dari pembakaran sate totok mulai mengepul di halaman SDN 2 Kalipucang.

Di antara riuh suara siswa yang bersiap masuk kelas, tampak seorang anak perempuan berseragam sekolah dengan senyum polos membantu seorang nenek menata dagangan.

Siswi kelas 5 yang bernama Khoenunisa, berusia 11 tahun, warga RT 4 RW 1 Dusun Girisetra, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Senin (2/2/2026).

Setiap hari sebelum bel masuk berbunyi, Khoenunisa menyempatkan diri membantu neneknya berjualan sate totok di sekitar lingkungan sekolah.

Tangannya yang kecil terlihat lincah kadang membantu membungkus, kadang melayani pembeli dengan sopan.

Ia bergegas masuk kelas, berganti peran menjadi seorang pelajar yang tekun mengikuti pelajaran.

Bagi Khoenunisa (11), membantu neneknya bukanlah beban. Justru di sanalah ia belajar arti tanggung jawab dan kemandirian sejak dini.

Di sela-sela waktu istirahat, ia kembali menghampiri neneknya, memastikan dagangan tetap rapi dan pembeli terlayani dengan baik.

Wali kelas 5 SDN 2 Kalipucang, Silviana Maya, menyampaikan, Khoenunisa dikenal sebagai anak yang santun dan tidak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.

“Khoenunisa ini anaknya rajin dan sopan. Meski sebelum sekolah membantu neneknya berjualan, di kelas ia tetap fokus belajar dan tidak pernah mengeluh. Perjalanannya luar biasa untuk anak seusianya,” tutur Silviana saat di konfirmasi, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, kisah Khoenunisa menjadi contoh nyata pendidikan karakter yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

Nilai kerja keras, kepedulian keluarga, dan rasa hormat kepada orang tua tercermin jelas dari sikapnya.

Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi keluarganya, Khoenunisa tetap memelihara mimpi seperti anak-anak lainnya.

Dukungan nenek dan lingkungan sekolah menjadi kekuatan tersendiri baginya untuk terus melangkah.

Kisah Khoenunisa bukan sekadar tentang seorang anak yang membantu berjualan, melainkan potret keteguhan hati dan cinta keluarga. (Eful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Disdikpora Pangandaran Evaluasi Program Pendidikan Karakter Melesat, Salat Jumat Tunggu Fatwa MUI

21 April 2026 - 12:09 WIB

Pangandaran Berduka, Cawabup 2024 Dikabarkan Meninggal Dunia

18 April 2026 - 16:50 WIB

Muscab PKB di Pangandaran, Siap Hijaukan Bumi Pesisir

18 April 2026 - 14:15 WIB

Nasib Sahril Belasan Tahun Menderita Penyakit Jantung, Disdikpora Pangandaran Beri Semangat

18 April 2026 - 10:37 WIB

Warsun: Jangan Giring Opini, Kunjungan Menhan Adalah Langkah Strategis, Bukan Ancaman Kedaulatan

17 April 2026 - 20:28 WIB

Trending di Headline